Kenapa bisnis yang lagi tumbuh justru sering runtuh dari dalam
Ini versi panjangnya. Datanya ada dan sumbernya kami cantumkan. Ujungnya mungkin bukan yang kamu duga.
Dunia bisnis Indonesia berubah lebih cepat dari sebelumnya.
Digitalisasi membuka peluang yang dulu hanya milik perusahaan besar. Generasi baru yang kreatif bermunculan, content creator jadi pengusaha, freelancer jadi agency, ide di kosan jadi startup. Meanwhile, ekonomi dunia yang gak stabil justru ngedorong lebih banyak orang buat ngebangun dan bikin sesuatu yang baru, sendirian.
Di satu sisi, ini merupakan hal yang baik sih, namun ada satu konsekuensi yang sering luput dari perhatian, semakin mudah seseorang memulai bisnisnya, tanpa ia sadari maka bakalan makin kompleks juga tantangan yang bakal ia hadapi. Terutama di satu area yang paling sering diabaikan, yaitu : KEUANGAN.
Bukan karena gak bisa cari cuan, tapi karena GAK TAU gimana cara ngelolanya.
Kamu bisa jadi orang paling hebat dalam bikin produk, ngemas konten bahkan ngejualnya, tapi bisnis tetep butuh orang yang fokus ngejaga kesehatan sumber dayanya, terutama yang berhubungan dengan keuangan. Dan kenyataannya, mayoritas bisnis yang tumbuh pesat justru runtuh dari dalam karena hal ini.
Angka-angka ini bukan cuma angka statistik. Di baliknya ada content creator yang adsensenya terus naik tapi gak tahu kenapa rekening bisnisnya selalu tipis. Ada founder yang gagal dapat investor bukan karena bisnisnya buruk, tapi karena laporan keuangannya tidak bisa dibaca apalagi diandalkan. Ada pengusaha muda yang panik setiap musim pajak datang karena tidak ada yang pernah menjelaskan apa yang sebaiknya dilakukan.
Lalu pertanyaannya: kalau semuanya udah tau ada masalah ini, kenapa masih terus kejadian? Jawabannya sederhana, bukan karena gak ada solusinya, tapi karena solusinya selama ini salah dipahami. Dan itu bermula dari miskonsepsi tentang satu profesi yang justru paling dibutuhkan oleh bisnis yang sedang tumbuh: Chief Financial Officer (CFO).
Selama ini, CFO dipahami terlalu sempit.
Buat kebanyakan pengusaha muda, orang keuangan itu ya "tukang catat". Kerjaannya bikin laporan, urus pajak, mastiin angkanya nggak meleset. Kedengerannya kayak kerjaan yang bisa dilempar ke admin, atau malah cukup pakai software akuntansi yang jualannya "laporan otomatis".
Padahal CFO modern bekerja jauh melampaui itu.
CFO Tradisional
Miskonsepsi yang ada- Ngurus administrasi sampai nge-arsip data historis
- Fokusnya ngehemat biaya aja
- Bekerja di dalam departemen keuangan saja
- Reaktif dalam mengelola keuangan, alias baru mikir kalo ada masalah doang
- Fokus bikin laporan keuangan sama pajak aja
- Konservatif dan menghindari risiko
CFO Modern
Yang sebenarnya dibutuhkan- Bantuin CEO ambil keputusan berbasis data
- Proaktif dalam perencanaan keuangan strategis
- Berkolaborasi lintas departemen biar bisa ciptain nilai tambah perusahaan
- Memanfaatkan teknologi buat ngebangun sistem keuangan
- Partner strategis dalam mendorong pertumbuhan bisnis
- Menyeimbangkan risiko (bukan menghindari) dan peluang secara optimal
Inilah yang selama ini hilang dari bisnis-bisnis yang gagal bukan karena gak bisa jualan, tapi karena gak ada yang bantuin mereka ngeliat ke depan, ngelola risikonya, dan bantu bikin keputusan dengan data yang benar.
Tapi ada satu masalah lagi: CFO modern selama ini cuma dianggap ada di perusahaan besar aja. Rekrut full-time berarti gaji BESAR dan komitmen jangka panjang yang belum tentu bisa ditanggung bisnis yang lagi tumbuh.
Ruang Kolase.
Kami percaya setiap bisnis yang sedang tumbuh berhak punya CFO modern yang benar-benar paham kondisi mereka, tanpa harus menanggung beban rekrut full-time.
CFO as a Service. Semua keahlian seorang CFO modern, hadir sesuai kebutuhan bisnis kamu, tumbuh bersama bisnis kamu juga.
Bukan admin tukang catat, bukan juga software akuntansi dengan gimmick "laporan otomatis". Tapi partner strategis yang duduk di samping kamu, ngebantu kamu ngeliat ke depan, biar kamu bisa ambil keputusan dengan lebih percaya diri, dan membangun bisnis yang sehat dari dalam.
Kita mulai dari ngobrol dulu
Ceritain aja kondisi bisnismu apa adanya. Dari situ kita bahas bareng mana yang perlu dibenerin duluan.
Yuk Ngobrol!